Juara Dunia Pencak Silat Ini Ikuti DragRace Untuk Usir Kejenuhan

BANDUNG,- Usia Hanif Yudani Kusuma masih terbilang muda yakni 20 tahun, namun kemampuannya diatas gelanggang silat tidak lagi diragukan dan menjadi andalan Kota Bandung, Jabar dan Indonesia di berbagai even. Ditengah kesibukannya sebagai seorang atlet pencak silat, juara dunia kelas C putra ini pun punya cara tersendiri mengusir kejenuhan dari rutinitas pencak silat.
Pesilat Kota Bandung kelahiran 15 Oktober 1997 ini mulai mengenal olahraga pencak silat, tidak terlepas dari peran kedua orang tuanya. Hanif, begitu dia disapa, merupakan anak bungsu dari pasangan mantan pesilat dunia, Dani Wisnu dan Dewi Yanti Kosasih. Dari kedua orangtuanya lah, darah pesilat mengalih di tubuh Hanif.
Pembawaannya di gelanggang, tidak jauh seperti sang ibu dan ayah. Pantang menyerah dan agresif menyerang lawan-lawannya. Tidak pernah takut menghadapi lawan yang lebih besar atau lebih ‘senior’ dari dirinya.
“Pesan orang tua ke saya itu, harus yakin dengan kemampuan diri sendiri dan saat di gelanggang harus tampil dengan lebih baik. Untuk itu, siapa pun lawan di gelanggang, hajar saja,” ujar Hanif membuka obrolan dengan FOKUSJabar saat ditemui di GOR Bandung, Jalan Jakarta Kota Bandung, Kamis (9/11/2017).
Bergelut dengan olahraga pencak silat, menjadi rutinitas yang dijalani Hanif sejak kecil. Latihan keras, baik di gelanggang maupun di lapangan, menjadi kegiatan sehari-harinya. Hal itu lah yang membuat seorang Hanif mampu menjadi juara dunia di kelas C putra pada tahun 2016. Saat itu, Hanif berhasil mengalahkan pesilat asal Vietnam di ajang Kejuaraan Pencak Silat for The World: The 17th World Championship and Festival di Denpasar, Bali, 3-8 Desember 2016 silam.
Sebelumnya, Hanif pun sempat meraih gelar juara I di kejuaraan internasional pada tahun 2015 pada even Penang Open. Hanif pun merupakan pemegang medali emas kelas C putra di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX pada September 2016 lalu. Dan yang terakhir, Hanif meraih medali perunggu di ajang SEA Games 2017 yang merupakan SEA Games pertamanya. Usai gelaran SEA Games 2017, Hanif pun harus bersiap menghadapi kejuaraan pencak silat internasional Belgia Open 2017 dan Korea Open 2017. Lalu dirinya pun harus mempersiapkan diri menghadapi seleksi nasional untuk Asian Games 2018.
“Memang terkadang suka jenuh juga karena agenda di pencak silat yang harus saya jalani sangat banyak. Kadang harus merelakan masa muda saya juga, tapi ini kan sudah jadi resiko. Dan saat rasa jenuh itu datang, saya sudah punya cara menghilangkan kejenuhan di pencak silat,” terangnya.
Untuk mengusir kejenuhan di pencak silat, Hanif mengaku jika dirinya kerap menjalani aktivitas atau olahraga ekstrem untuk menghilangkannya. Balapan motor pun menjadi arena pelampiasannya untuk menghilangkan kejenuhan di pencak silat.
Menunggangi si kuda besi menjadi pilihannya untuk merefresh kembali semangatnya di pencak silat. Bahkan tidak jarang dirinya mengikuti sebuah even kejuaraan road race maupun dragrace. “Di nomor drag race 21 meter, saya pernah jadi juara dua untuk tingkat Bandung Raya,” tambahnya.
Selain balap motor, cara lain yang ditempuhnya yakni dengan berkumpul bersama rekannya dan berolahraga futsal. Bersama teman-teman satu komunitas, Hanif pun sempat mencicipi rasanya menjadi juara di olahraga futsal meski hanya sebatas komunitas.
“Setelah merasa puas dan refresh, saya kembali lagi ke pencak silat. Berlatih lagoi dari nol untuk persiapan menghadapi even selanjutnya. Bagi saya, menjadi juara di pencak silat ini tidak hanya untuk harga diri pribadi, tapi juga nama baik keluarga, daerah dan negara saya,” pungkasnya. (B3)