Ketidakjelasan Nomor Lomba Ganggu Persiapan Cabor Biliar di PORDA XIII/2018

BANDUNG,- Sedikitnya 18 nomor pertandingan untuk cabang olah raga biliar masih belum kunjung menemui kejelasan untuk diperlombakan pada ajang Pekan Olah raga Daerah (Porda) XIII/2018 di Kabupaten Bogor. Kondisi tersebut  turut mengganggu persiapan para pengurus cabor biliar dikabupaten kota dalam mempersiapkan atlet pada nomor-nomor potensial medali.

Keluhan diungkapkan oleh Pengurus Cabang Persatuan Olah Raga Biliar Seluruh Indonesia (Pobsi) Kota Bandung. Ketua Pobsi Kota Bandung Agus Sujadi mengatakan, ketidakjelasan pada jumlah nomor ini membuat persiapan tim biliar Kota Bandung terhambat karena belum bisa fokus.
“Sejauh ini baru 16 nomor yang sudah fix, sementara 18 nomor kabarnya masih dalam kajian, jadi masih mungkin ada perubahan nomor. Dari segi persiapan, kondisi ini tentu mengganggu. Kami jadi belum bisa fokus karena nomor-nomornya saja masih dikaji,” ujar Agus saat ditemui di arena latihan biliar Pobsi kota Bandung di Jalan Jakarta, Minggu (3/9/2017).
Agus mengatakan, pada Porda ini Kota Bandung memang tidak mematok target muluk-muluk untuk cabor biliar. Dua medali emas menjadi target paling realistis jika melihat potensi atlet yang dimiliki. Menurut Agus, Batara Marpaung diproyeksikan meraih emas dri nomor carom, sementara Adam Abdurahim dari nomor snooker.
“Kami sebenarnya juga punya atlet senior unggulan satu lagi. Tapi sedang bermasalah urusan mutasi karena dia ingin pindah. Kalau dia akhirnya tidak jadi pindah, kans lumayan besar untuk meraih tambahan satu atau dua emas dari nomor pool,” kata Agus.
Dia menambahkan, nomor lomba yang masih sumir juga berpotensi merusak target dua emas yang dipatok Kota Bandung. Pasalnya, salah satu nomor potensial medali emas bagi Kota Bandung, yakni carom libre justru termasuk dalam 18 nomor bermasalah yang masih dikaji oleh KONI Jawa Barat bersama Pobsi Jawa Barat.
“Proyeksi medali emas kami adalah dari nomor carom dan snooker. Tapi, untuk salah satu nomor unggulan kami, yakni carom libre juga ternyata masih dikaji. Kalau sampai nantinya batal digelar, tentu merugikan bagi Kota Bandung karena itu artinya potensi emas akan hilang begitu saja,” ujar Agus. (B6)