Porserosi Kab. Bandung Optimis Cabor Sepatu Roda Dipertandingkan di Porda 2018

SOREANG,- Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Porserosi) Kabupaten Bandung optimistis cabor sepatu roda akan dipertandingkan di Porda 2018. Oleh karena itu mereka terus menjalankan program seleksi dan akan memulai pelatcab pascaIdulfitri nanti.

Ketua Umum Porserosi Kabupaten Bandung Temi Gantina mengatakan, pihaknya akan menjaring 8 atlet putra dan 8 putri untuk babak kualifikasi Porda. “Mudah-mudahan nanti banyak yang lolos kualifikasi,” katanya di sela-sela Kejuaraan Sepatu Roda Piala Bupati Bandung di pelataran Stadion Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Senin (1/5/2017).

Terkait target Temi tak mau muluk-muluk, soalnya pada Porda 2014, Kabupaten Bandung hanya meraih 1 medali perunggu. Oleh karena itu raihan 1 emas pun sudah menjadi kemajuan signifikan.

Menurut Temi, pada 2014 Kabupaten Bandung memang hanya memiliki waktu persiapan 1,5 tahun. Namun untuk 2018, persiapan 4 tahun penuh dianggap cukup untuk mencapai target tersebut.

Di sisi lain, Temi mengaku tak terpengaruh dengan kemungkinan tidak dipertandingkannya sepatu roda di Porda 2018. Pamor yang terus menanjak dan euforia prestasi di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016 membuat tidak ada alasan yang tetap untuk membendung sepatu roda tampil di Porda 2018.

Menurut Temi, sepatu roda selama ini tidak pernah absen dalam gelaran Porda sejak 2006 di Kabupaten Karawang. “Dengan kondisi saat ini, justru sepatu roda memiliki masa depan cerah bagi prestasi olahraga Jabar, jadi sudah sepantasnya tetap dipertandingkan,” ujarnya

Temi menegaskan, sepatu roda di arena PON XIX merupakan salah satu cabor yang banyak menarik minat penonton. Hal itu berimbas pada antusiasme masyarakat untuk bermain sepatu roda.

Temi tak menampik jika maraknya penjualan sepatu roda mainan juga berimbas pada animo masyarkat tersebut. “Harus diakui prestasi PON dan sepatu roda mainan membuat minat anak usia dini semakin merebak,” katanya.

Meski masih sekedar gemar dan menggunakan sepatu roda mainan, animo tersebut tidak ditampik Temi sebagai embrio subur yang bisa menelurkan bibit-bibit atlet sepatu roda andal bagi Jabar di masa depan.

Yang dibutuhkan, hanyalah pembinaan berkesinambungan dan ajang bagi pesepatu roda usia dini tersebut agar mau serius menggeluti olahraga tersebut. Di tingkat Jabar, Porda lah yang menjadi puncak pembinaan prestasi bagi semua cabor termasuk sepatu roda.

Oleh karena itu Temi menilai, tidak dipertandingkannya sepatu roda di Porda 2018 merupakan pembunuhan terhadap potensi dan animo masyarakat tersebut. Apalagi kedua hal tersebut sudah terbukti berbuah prestasi gemilang yang tak lepas dari capaian Jabar Kahiji di PON XIX. (B8)