366 Kasus Mutasi Atlet, Baru Selesai Jelang 20 PORDA XIII/2018

BANDUNG,- Kasus mutasi atlet menuju Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Barat XIII/2018 mencapai 366 kasus. Namun dari ratusan proses perpindahan atlet antardaerah hingga lintasprovinsi itu, baru 20 kasus yang sudah rampung diverifikasi hingga membuahkan keputusan rekomendasi.
“Kami sudah mengompilasi kasus-kasus mutasi ini dan beberapa di antaranya sudah diputuskan. Ada sekitar 8 ajuan mutasi ditolak dan 10 mutasi yang diterima,” ujar Ketua Tim Kelompok Kerja Mutasi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Barat Agus Salide saat ditemui di Gedung KONI Jabar, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Rabu (21/3/2018).
Dilihat dari jumlah keseluruhan ajuan mutasi yang mencapai 366 kasus, penyelesaian 20 kasus memang tampak sedikit. Namun dia mengatakan, kasus-kasus yang sudah selesai tersebut merupakan prioritas karena melibatkan perpindahan atlet dari luar provinsi yang berpotensi bermasalah.
“Ketua Umum KONI Jabar memang menekankan supaya kami sangat berhati-hati dalam menangani kasus mutasi yang melibatkan atlet luar provinsi. Soalnya, Porda ini adalah sasaran antara unutk PON. Jadi jangan sampai atlet luar provinsi yang masuk, lalu juara Porda, nantinya malah tidak membela Jabar di PON,” kata Agus.
Dia melanjutkan, di luar 20 kasus yang sudah rampung dituntaskan verifikasi pluas rekomendasinya, lebih dari 300 kasus lainnya  adalah seputar kelengkapan administrasi. Namun, menurut agus, masalah kelengkapan administrasi yang terjadi juga relatif lebih ringan karena para atlet itu sudah melengkapi syarat domisili, sudah mengikuti babak kualifikasi Porda dan tidak dipermasalahkan oleh daerah kabupaten kota lainnya.
“Jadi dari 300 lebih kasus yang belum diputus itu ada yang sudah gagal duluan atau tidak dilanjutkan prosesnya karena atlet yang bersangkutan gagal di babak kualifikasi Porda alias otomatis tidak akan ikut putaran final Porda. Selain itu, ada pula yang sudah ikut Porda dan secara domisili menjadi bagian suatu kabupaten kota, hanya tinggal melengkapi surat pindah dari daerah asalnya. Jadi masih dipertimbangkan berkaitan dengan masalah administrasi,” ujar Agus.
Dia mengatakan, dalam sisa masa kerja yang akan berakhir pada 31 Maret nanti, tim Pokja mutasi akan lebih fokus pada kasus perpindahan atlet dari luar provinsi. Seperti diketahui,  kendati terkait ajang olah raga domestik Porda, perpindahan atlet melibatkan atlet-atlet dari luar provinsi. Provinsi-provinsi luar itu di antaranya adalah DKI Jakarta, Lampung, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan lainya.
“Seperti yang terjadi di Cabor Muaythai misalnya, melibatkan perpindahan atlet dari luar Jabar tapi masih bermasalah karena belum ada rekomendasi dari KONI jateng sebagai daerah asal atlet. Beberapa dari cabor lain juga belum beres, misalnya sepak takraw yang banyak mengimpor dari luar provinsi meskipun prosesnya masih berjalan. Para pengaju mutasi wajib melengkapi syarat, terutama surat keputusan dari KONI asal atlet yang prosesnya memang butuh waktu, apalagi kalau dari luar provinsi. Yang pasti, syarat-syarat formal kepindahan atlet sesuai aturan harus terpenuhi,” kata Agus.
Dia mengatakan, verifikasi masih berjalan dengan berpegang pada aturan-aturan mutasi yang sudah ditetapkan. Menurut dia, keputusan akhir perihal disetujui atau diotolaknya mutasi atlet yang bersangkutan kelak ada di tangan Ketua Umum KONI Jabar Ahmad Saefudin.
“Nantinya kami memberikan rekomendasi tentang siapa saja atlet yang memenuhi persyaratan mutasi dan mana yang tidak. Keputusan akhir ada pada Ketua KONI Jabar dengan mempertimbangkan berbagai rekomendasi baik dari tim mutasi maupun tim keabsahan. Bahkan mungkin saja nanti Ketua KONi mengeluarkan diskresi, misalnya tetap meloloskan atlet dengan mengabaikan prosedur karena mempertimbangkan azas kemanfaatan atau kepentingan yang lebih besar seperti untuk prestasi Jabar di PON, bisa saja itu,” ujar Agus.
Sementara itu  dari hasil sementara verifikasi yang dilakukan, terdapat tiga daerah dengan jumlah kasus mutasi atlet paling banyak di antara 27 kabupaten kota Jawa Barat. Menurut Agus, ketiga daerah yang paling banyak menjadi tujuan mutasi adalah Kota Bekasi (74 kasus), tuan rumah Porda 2018 Kabupaten Bogor (29 kasus), dan Kabupaten Bekasi (29). (B4)