Aikido Shudokan International Gasshuku 2018 di Ciater Diikuti Ratusan Peserta 

BANDUNG,- Sekitar 100 aikidoka (atlet aikido) dari beberapa negara berkumpul di Sari Ater Resort & Spa, Ciater, Subang. Selama tiga hari sejak Sabtu (15/9/2018) sampai Senin (17/9/2018), mereka melakukan latihan bersama dalam kegiatan bertajuk ‘Aikido Shudokan International Gasshuku 2018’.
Penggagas kegiatan dari Aikido Shudokan Indonesia, sensei Mark A. Hadiardja menuturkan, kegiatan tersebut merupakan acara rutin yang digelar setiap tahun. Pada latihan bersama tersebut, beberapa prinsip-prinsip dasar yang menjadi fondasi semua teknik-teknik yang ada di dalam Aikido menjadi penekanan. Mulai dari teknik dasar sampai dengan teknik lanjutan (advance). Selain itu dipelajari juga bagaimana setiap teknik tersebut, bisa ditransformasikan serta diaplikasikan secara efektif dan efisien menjadi gerakan-gerakan dalam pembelaan diri (self defence) saat dibutuhkan.
“Kegiatan latihan bersama kali ini tidak hanya diikuti Aikidoka dari tanah air, tapi juga para Aikidoka dari berbagai penjuru dunia. Seperti dari Belgia, Republik Ceko, Ukraina, Jerman, Vietnam, Malaysia, Singapura, Australia, Korea, Filipina dan India. Jumlahnya mencapai 100 orang aikidoka,” ujar Mark saat ditemui di sela-sela acara, Senin (17/9/2018).
Mark menambahkan, pihaknya secara kontinyu terus berupaya menjadikan kegiatan latihan bersama ini sebagai agenda rutin sejak tahun 2001 pada saat Aikido Shudokan Indonesia pertama kali didirikan di Kota Bandung. Untuk jumlah peserta atau para aikidokan yang ikut serta setiap tahun pun terus mengalami peningkatan.
“Terutama untuk tahun ini dari negara-negara yang baru memiliki dojo Aikido Shudokan. Selain peningkatan teknik dan kemampuan aikidokan, kegiatan ini sebagai upaya kita mempromosikan beladiri Aikido dan menjadi sarana promosi wisata di Bandung dan Jabar kepada mereka untuk mempromosikan di negara mereka masing-masing,” tegasnya.
Pelatihan sendiri dipimpin langsung Shuseki Shihan, Joe Thambu, yang merupakan pimpinan Aikido Shudokan International sebagai organisasi internasional yang menaungi banyak dojo di seluruh penjuru dunia seperti Australia, Indonesia, Malaysia, Singapura, Rusia, Polandia, Belgia, Republik Ceko, lnggris, Ukraina, dan Amerika Serikat. Sensei Joe Thambu sendiri dibantu lima orang sensei lain yakni Mark A. Hadiardja, Enrica Cheung, Ondra Musil (Ceko), dan Ramlan Ortega.
Sensei Joe Thambu menambahkan, Aikido mengajarkan beragam teknik yang saling berkaitan satu sama lain. Mulai dari teknik dasar, teknik lanjutan (advance) hingga teknik pertahanan diri (self defence). Aikido mengajarkan bagaimana menggunakan tubuh kita sebagai poros kekuatan, bukan hanya foikus terhadap kekuatan saja.
“Setiap teknik yang diajarkan ditujukan untuk mengontrol lawan bukan untuk menaklukkan atau menghajar lawan. Jadi Aikido tidak mengajarkan untuk melukai orang lain tapi mengontrol orang lain sehingga Aikido sangat bagus dipelajari oleh polisi atau petugas keamanan. Tapi ini butuh pelatihan yang tidak sebentar dan harus konsisten,” tutur Joe.
Secara khusus, sensei Joe Thambu sangat mengapresiasi kegiatan latihan bersama yang digelar Aikido Shudokan Indonesia. Para peserta yang ditempatkan di satu tempat, membuat proses pelatihan lebih fokus dan lebih baik.
“Kedepan, kita ingin membuat latihan bersama ini semakin besar dengan jumlah peserta lebih banyak dari negara yang lebih banyak pula. Dengan semakin banyak pelaksanaan latihan bersama atau gasshuku ini, saya cukup yakin jika kemampuan para aikidokan semakin baik dan Aikido semakin dikenal di masyarakat dunia,” pungkasnya.
Seperti diketahui, Aikido semrupakan salah satu jenis beladiri yang berasal dari negeri sakura, Jepang. Aikido merupakan manifestasi dari modernisasi pemikiran Jepang dengan selimut budaya Jepang tradisional yang dikembangkan menjadi sebuah beladiri oleh Morihei Ueshiba sekitar tahun 1800-an.
Beladiri ini fokus pada kunci-kuncian sendi, lemparan serta bantingan yang dilakukan dalam lingkungan dan suasana latihan yang sangat aman. Salah seorang murid dari Morehei Ueshiba yang bertalenta tinggi yakni Gozo Shioda mendirikan Yoshinkan Aikido yang dianggap aliran Aikido yang cukup keras dan ‘combat effective’. Saat ini, Aikido sendiri telah berkembang di lebih dari 93 negara di Asia, Eropa, Amerika, Australia dan sebagian Afrika.
Sementara di Indonesia, saat ini Aikido terus berkembang di tiga kota besar yakni Bandung, Jakarta, dan Tanggerang. Khusus di Kota Bandung, dojo utama Aikido Shudokan Indonesia berlokasi di lantai 3 Martabak San Fransisco, Jalan Burangrang Kota Bandung. (B3)