BK Kempo Tanpa Eliminasi

BANDUNG,- Sebanyak lebih dari 200 atlet akan mengikuti babak kualifikasi Pekan Olah Raga Daerah (Porda) Jawa Barat XIII untuk cabang olah raga kempo. Namun, pada babak tersebut tidak akan diberlakukan sistem eliminasi atlet untuk menuju putaran final Porda.
“Jadi, semua atlet yang ikut babak kualifikasi otomatis lolos ke putaran final Porda. Ini lebih cocoknya disebut test event atau praporda saja, tidak ada eliminasi,” ujar Sekretaris Umum Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (Perkemi) Jawa Barat Maria Sohliem di GOR Pajajaran, Kota Bandung, Kamis (2/11/2017).
Dia mengatakan, lebih dari 200 atlet kempo yang akan mengikuti Porda itu berasal dari 15 pengurus cabang kabupaten kota Perkemi di Jawa Barat. Mereka akan mengikuti 19 nomor yang dipertandingkan di Porda.
Namun, pada putaran final Porda nanti, bisa saja jumlah atlet itu menyusut, tergantung kemampuan masing-masing pengcab untuk memberangkatkan atletnya.
“Dari 20 pengcab, 15 pengcab yang mengirim atletnya untuk babak kualifikasi ini. Mungkin masalahnya adalah pada kurangnya pembinaan sehingga kurang atlet, atau juga pendanaan yang kurang untuk memberangkatkan atlet,” kata Maria.
Menurut dia, peta persaingan pada Porda nanti cenderung masih akan melibatkan empat daerah, yakni Kota Bogor yang pada Porda 2014 menjadi juara umum kempo dengan enam emas, tuan rumah Kabupaten Bogor, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung.
“Yang sedang menggeliat dan punya potensi mengejutkan saat ini adalah Kabupaten Bandung. Pembinaannya bagus dan frekuensi latihanya sudah intens,” kata Maria.
Untuk operasional penyelenggaraan BK Porda ini, Maria mengakui, selain memanfaatkan dana pembinaan dari KONI Jabar, Perkemi Jabar menarik iuran dana dari masing-masing pengcab. Dana tersebut digunakan untuk menambal kekurangan biaya sewa alat, akomodasi, konsumsi atlet hingga ofisial tim dan wasit selama babak kualifikasi yang digelar (24-26/11/2017) di Kabupaten Bogor.
Menurut dia, tradisi gotong royong ini sudah dilakukan sejak edisi Porda sebelumnya karena masing-masing pengcab biasanya sudah menyisihkan dari dana bantuan KONI daerah masing-masing atau dari sponsor untuk kegiatan semacam ini.
“Dana dari KONI dan tuan rumah memang ada untuk BK ini. Tapi tidak 100 persen, tidak cukup karena pengeluaran untuk penginapan dan makanan seluruh tim itu cenderung lebih besar. Jadi tradisinya gotong royong dan yang penting tentu ada laporan pertanggungjawaban untuk penggunaan dana itu, baik ke KONI maupun ke Pengcab,” kata Maria. (B4)