Gelar Media Gathering, Koni Kota Bandung Jelaskan Sistem Permainan Cabor Baru Di Porda XIII/2018

BANDUNG,- Untuk meningkatkan pengetahuan para jurnalis, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Bandung berikan pemaparan mengenai cabang olahraga (cabor) yang akan dipertandingkan di Pekan Olahraga Daerah (Porda) XIII Jawa Barat tahun 2018

Seperti diketahui pada ajang multi event 4 tahunan ini Panitia Besar (PB) Porda XIII/2018 akan mempertandingkan sebanyak 60 cabang olahraga resmi dimana 5 diantaranya merupakan cabang olahraga yang baru saja masuk kedalam keanggotaan KONI baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Adapun ke-5 cabang olahraga yang dimaksud diantaranya rugby, criket, pentaque, muay thai dan gate ball

“Agar para jurnalis bisa melaporkan berita yang objektif, pada kesempatan ini kami telah menghadirkan beberapa narasumber untuk membahas mengenai cabang olahraga baru yang akan dipertandingkan di Porda XIII tahun 2018, secara regulasi (aturan) mungkin banyak diantara kita yang belum mengetahui bagaimana cabang olahraga tersebut dipertandingkan diantaranya seperti cricket (kriket) dan pentaque,” jelas Kabid Humas KONI Jawa Barat Oce Permana, dalam acara Gathering Journalist yang berlangsung selama dua hari (18-19/9/2018) di The Cipaku Grand Hotel, Jalan Cipaku, Kota Bandung.

Menghadirkan 2 narasumber dibidangnya, KONI Kota Bandung sendiri telah menghadirkan pelatih tim kriket putra Kota Bandung, Nadya Fadilla dan Ketua Umum Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) Kota Bandung, Yusuf Wahyu untuk menjelaskan bagaimana cabang olahraga tersebut dimainkan.

Dimulai dari cabor kriket, Nadia menuturkan jika olahraga asal negri tiga singa (Inggris, kriket) itu hampir serupa dengan bisbol namun untuk mencetak angka pemukul harus melakukan “run” (lari) didalam pitch yang berjarak 22 meter dengan jenis pemukul yang lebih lebar dan bola yang berbeda dengan bisbol.

Sedangkan untuk mematikan lawan, pelempar harus menjatuhkan sebuah target yang terdiri dari tiga batang kayu (wicket) yang ditancapkan bersama dua bail yang ditaruh diatas sela-sela batang kayu tersebut.

Adapun jumlah pemain didalam satu tim kriket dikatakan berjumlah 11 orang, dimana mereka akan berada di dalam lapangan yang berbentuk oval dengan ukuran kurang lebih dua kali lebih luas dari lapangan sepak bola.

“Garis besarnya, olahraga kriket sekilas hampir mirip dengan bisbol karena disana terdapat penjaga, pelempar dan pemukul. Olahraga ini berlangsung selama dua sampai empat inning dengan waktu bisa mencapai satu hari, tapi itu baru diluar negri di indonesia mungkin setengah hari tergantung dari selesainya perinning namun didalam pertandingan kriket bisa terpotong oleh hujan dan pertandingan satu hari juga dapat dinyatakan tanpa hasil jika pertandingan hanya dapat dimainkan lebih singkat dari batas minimal (yang sudah disepakati sebelumnya),” ujarnya.

Beralih ke cabor pentaque, Yusuf menjelaskan jika cabor ini bermula dari permainan tradisional asal Prancis dimana atlet (pelempar) bertugas mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya melalui lemparan. Ada pun jarak lemparan yang ditetapkan pelempar, antar enam sampai sepuluh meter dengan media tanah atau rerumputan berukuran 4×15 meter.

Untuk jenis bola yang digunakan untuk pentaque sendiri berupa bola besi, selain bola besi terdapat juga bola kayu yang ukurannya hampir serupa dengan bola pingpong. Secara teknis, olahraga tersebut lebih mengedepankan akurasi, strategi dan feeling dari para pemainnya.

“Dalam Petanque, terdapat single tim, double tim, triple tim, dan mix tim, dan jenis permainan ini adalah batle tim. Sistim permainannya kita harus mendapatkan poin dari bola besi yang paling terdekat dengan bola kayu, setiap bola terdekat memiliki poin 1 dan lawan bisa menjauhkan bola lawan agar mereka tidak memiliki poin,”pungkasnya (B3)