Kasus Mutasi Atlet Porda XIII Dinilai Memprihatinkan

BANDUNG,- Proses mutasi atlet menuju Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Barat XIII/2018 yang sedang diverifikasi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Barat mencapai 324 kasus.
Jumlah tersebut dinilai fenomenal, sekaligus sangat memprihatinkan karena mencederai semangat pembinaan atlet daerah.
“Untuk ajang olah raga selevel Porda yang seharusnya mengedepankan pembinaan atlet daerah, membludaknya jumlah mutasi atlet antar kabupaten kota bahkan antar provinsi ini jelas sangat memprihatinkan. Mau di bawa ke mana sebenarnya Porda ini?” ujar Ketua Umum KONI Kota Bandung Aan Johana seusai memimpin rapat internal di Sekretariat KONI Kota Bandung, Jalan Terusan Jakarta, Kamis (8/2/2018).
Menurut Aan, sebenarnya jumlah 324 kasus mutasi atlet yang diumumkan dan kini tengah diverifikasi oleh  Kelompok Kerja Mutasi KONI Jawa Barat itu bukanlah kabar mengejutkan. Pasalnya, kata dia, KONI Kota Bandung sudah terlebih dahulu memiliki data tentang lau lintas mutasi atlet menjelang pergelaran Porda yang jumlahnya melebihi 300. Jumlah kasus mutasi atlet kali ini, kata Aan, jauh lebih besar dari fenomena  mutasi atlet yang terjadi di Porda Kabupaten Bekasi empat tahun silam.
“Awalnya yang diumumkan KONI Jabar itu kan 174 kasus, tapi kemudian berkembang menjadi lebih dari 300 kasus mutasi, buka hanya antar kabupaten kota tapi juga ada dari luar provinsi. Jadi apa yang harus kita sikapi? Jelas-jelas mutasi ini hanya untuk kepentingan sesaat, mereka pindah ketika ada multievent. Kepentingannya jelas, pindah daerah untuk membantu daerah tertentu  meraih juara dengan berbagai iming-iming, bonus terutama,” kata Aan.
Dia menilai, kasus mutasi dengan jumlah fantastis itu telah mencederai kaidah-kaidah pembinaan olah raga oleh daerah-daerah yang selama ini konsisten memprioritaskan pembinaan atlet. Bukannya memprioritaskan prestasi dari produk pembinaan sendiri, mendatangkan atlet dari luat daerah bahkan provinsi dijadikan jalan pintas untuk meraih prestise kejuaraan.
“Yang jelas kami merasa tercederai oleh adanya mutasi dengan jumlah membludak sedemikian banyak, yang hanya untuk kepentingan preatise sesaat. Fenomena mutasi ini mengabaikan kaidah-kaidah sportivitas dan pembinaan yang selama inj kita lakukan untuk beri kontribusi prestasi ke provinsi maupun nasional,” ujar Aan.
Oleh karena itu, Aan menaruh harapan besar kepada KONI Jabar. Dia berharap, KONI Jabar melalui tim pokja mutasi dapat bekerja secara objektif sekaligus tegas untuk menentukan kelayakan rekomendasi mutasi.
“Kasus mutasi ini jumlahnya luar biasa. Kami harap KONIN Jabr bisa jeli dan objektif. Kalau kepentingannya hanya untuk mendongkrak (perolehan medali) satu daerah agar juara, harusnya (KONI Jabar) bisa membaca. Kalau sampai kasus mutasi yang tidak layak tetap diloloskan, kami di daerah yang konsisten pembinaan sangat tercederai,” ujar Aan.
Selain objektif dalam melakukan verifikasi kasus mutasi atlet, Aan berharap KONI Jabar juga membuat peraturan tegas untuk mencegah potensi munculnya atlet-atlet “siluman” alias-atlet-atlet yang tiba-tiba tampil di putaran final Porda tanpa melalui pendaftaran adiministrasi sebelumnya.
“Itu yang juga kami khawatirkan, tapi mudah-mudahan tidak sampai terjadi, yakni
kemunculan atlet siluman yang dipakai oleh kabupaten kota. Tapi kalau
Jabar buat aturan, misanya April semua harus daerah termasuk tuan rumah wajib mendaftarkan atletnya yang akan dimainkan di Porda, pasti tidak akan ada fenomena ‘atlet siluman’ seperti yang terjadi pada 2014,” ujar Aan. (B4)