Korbankan Masa Muda, Alisha Nabila Cetak Prestasi di Bowling

BANDUNG,- Prestasi emas ditorehkan atlet muda Jawa Barat pada ajang kejuaraan nasional (kejurnas) cabang olahraga bowling yang juga menjadi ajang Test Event Asian Games XVIII/2018 yang dihelar di venue bowling center Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan, 25-28 Februari 2018 lalu. Salah satunya yakni gadis kelahiran Bandung pada 24 April 1996, Alisha Nabila Larasati.
Bersama dengan Nadia Pramanik dan Thalita Raisa, Alisha mempersembahkan medali emas dari nomor trio putri setelah mencetak skor tertinggi, 3.773 pinfall. Alisha pun menjadi penyumbang poin terbanyak bagi timnya dengan torehan 1.383 pinfall, disusul Nadia (1.322 pinfall) dan Thalita (1.068 pinfall). Pencapaian ketiga atlet muda Jabar ini pun bisa dibilang cukup fenomenal karena harus menghadapi beberapa atlet senior dengan jam terbang tinggi maupun dengan dukungan yang penuh dari daerahnya masing-masing.
“Bagi Alisha, kalau saat bertanding itu yang kepikiran cuma bagaimana bermain semaksimal dan sebaik mungkin. Mau dengan dukungan dana terbatas atau gangguan apa, itu tidak menjadi hal yang terlalu dipersoalkan,” ujar Alisha saat dihubungi FOKUSJabar melalui telepon selularnya, Selasa (6/3/2018).
Prestasi yang diraihnya di ajang kejurnas bowling 2018 sekaligus Test Event Asian Games 2018, bukan merupakan prestasi perdana yang diraih Alisha. Deretan medali dan penghargaan sudah diraih oleh gadis manis berkacamatan ini. Baik di level nasional, hingga internasional.
Alisha sendiri sudah mencetak prestasi saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), saat menempati peringkat tiga pada ajang Kejurnas Boling Gubernur DKI Jaya Cup ke-34 tahun 2006. Di usia 13 tahun, Alisha pun sudah merasakan atmosfer kejuaraan internasional yakni pada gelaran 2nd Ancol International Open Ten Pin Bowling Championship yang digelar pada tahun 2009.
Usai itu, deretan kejuaraan nasional maupun internasional pun hampir tak pernah lepas diikuti Alisha. Membela Indonesia pada ajang SEA Games 2013 di Myanmar, lalu di ajang Pan American Prep Event di Orlando, Florida dengan raihan medali perak di nomor Girl’s Double, hingga medali perunggu dari nomor Team of Five pada Asian Games 2014, Incheon, Korea Selatan, menjadi deretan prestasi yang sudah ditorehkan mojang Bandung ini.
Di level nasional, Alisha sudah menjadi langganan dan andalan tim bowling Jabar sejak pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII tahun 2012 lalu di Riau. Di ajang PON pertamanya, Alisha sudah menyumbangkan dua medali yakni medali emas dari nomor trio putri bersama Tannya Roumimper dan Puteri Astari serta medali perunggu dari nomor single putri.
Hengkangnya Tanyya Roumimper dan Puteri Astari ke Jawa Timur pada tahun 2015, menjadikan Alisha sebagai andalan Jabar di PON XIX/2016 untuk cabang olahraga bola gelinding ini. Hal itu pun dibuktikan Alisha dengan memborong empat medali yakni medali emas dari nomor double putri bersama Nadya Pramanik, medali perak di nomor trio putri, dan dua medali perunggu dari nomor single putri serta all event putri. Saat ini, Alisha bersama Nadya pun menjadi dua atlet asal Jabar yang menjadi penghuni pelatnas bowling Asian Games 2018.
“Pada Asian Games pertama saya di Incheon tahun 2014 lalu, hanya meraih medali perunggu saja. Dan untuk Asian Games 2018 yang digelar di Indonesia, saya bertekad untuk bisa menyumbangkan medali emas bagi Merah Putih. Tapi target terdekat saya saat ini, adalah bagaimana bisa menjadi bagian tim inti bowling Indonesia untuk Asian Games 2018 karena saat ini masih proses seleksi. Untuk itu, saya berharap dukungan dan perhatiannya juga dari daerah asal saya, Jabar. Baik dari pemerintah, KONI, maupun pengurus PBI. Atletnya lebih diperhatikan lagi, jangan dicuekin,” tuturnya.
Dua medali emas pun sudah ditargetkan PB PBI bagi tim bowling Indonesia di ajang Asian Games 2018. Bukan perkara mudah bagi Indonesia untuk bisa meraih dua medali emas dari total enam medali emas yang diperebutkan di Asian Games 2018. Keenam medali emas tersebut diperebutkan dari nomor trio, team of six, dan master baik di kelompok putra maupun putri.
“Kalau melihat peluang, saya pikir Indonesia punya peluang meraih medali emas dari nomor team of six. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa meraih medali emas juga dari nomor yang lain karena kita berlaga di rumah sendiri, di hadapan dukungan warga Indonesia secara langsung. Tak hanya itu, kita yang selalu dianggap underdog oleh negara Asia lain seperti Korea Selatan, Jepang, Malaysia dan Singapura, sebenarnya bisa bersaing dan selalu meraih medali saat menghadapi mereka. Yang membedakan kita dengan mereka hanya dari sisi try out, perlengkapan, dan sarana latihan. Kalau dari sisi teknik maupun fisik, saya yakin Indonesia bisa bersaing,” paparnya.
Torehan prestasi demi prestasi di ajang nasional maupun internasional, diakui Alisha, menjadi bukti dari kerja keras, semangat pantang menyerah, dan pengorbanan dirinya selama menggeluti olahraga bowling. Bagaimana tidak, sejak duduk di bangku SD, tangan mungil Alisha sudah memegang dan menggelindingkan bola untuk menjatuhkan deretan pin.
Masa muda yang sebagai orang sebut sebagai masa bahagia, tidak sepenuhnya dinikmati Alisha. Dirinya harus berjibaku di lintasan bowling sejak kecil untuk meningkatkan kemampuannya. Tak hanya itu, Alisha pun harus menunda keinginannya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi selepas lulus SMA pada tahun 2013.
“Tapi karena bowling ini hoby dan sudah jadi fashion saya, bahkan jadi mata pencaharian juga, ya saya nikmati dan happy-happy saja serta tidak merasa terbebani atau terpaksa menjalani semua ini. Hanya satu hal yang membuat saya iri melihat teman-teman waktu SMA dulu atau teman-teman sebaya saya, yakni pada saat mereka disibukkan dengan kuliah, menyusun skripsi atau bahkan sudah lulus dari perguruan tinggi. Bagaimana pun juga, saya pun ingin kuliah dam memiliki gelar dari perguruan tinggi. Dan kalau nanti saya berkesempatan mencicipi bangku kuliah, saya ingin ngambil jurusan Komunikasi,” tegas Alisha. (B6)