Mutasi Masih Menjadi Masalah Besar Menjelang Porda

BANDUNG, – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Barat rampung menyambangi lima zona dalam rangka sosialisasi Rapat Anggota Tahunan 2017 sekaligus menjaring aspirasi pembinaan olah raga daerah selama persiapan Porda 2018. Dari rangkaian pertemuan dengan seluruh KONI kabupaten kota di Jabar tersebut, mutasi atlet masih menjadi masalah utama menjelang pelaksanaan Porda XIII/2018 di Kabupaten Bogor.

“Masalah terbanyak yang muncul memang soal mutasi atlet. Yang harus ditekankan adalah ikuti dasar hukum dan utamakan pembinaan. Mutasi sesuai amanah kami adalah untuk menjamin prestasi, bagaimana memberikan pekerjaan, dan menjamin kelanjutan prestasi maupun pendidikan. Jadi intinya ada jaminan kehidupan buat atlet. silakan komunikasikan amsalah ini dengan kami,” kata Ahmad pada sosialisasi di Hotel Newton, Kota Bandung, Rabu (10/1/2018) malam.
Selain oleh jajaran pengurus KONI Jabar, sosialisasi tersebut dihadiri oleh para pengurus KONI Kota Bandung, KONI Kabupaten Bandung, KONI Kabupaten Bandung Barat, KONI Kota Cimahi, Kabupaten Purwakarta, dan KONI Kabupaten Subang.
Masalah mutasi sendiri secara khusus ditangani oleh KONI Jabar melalui tim Pokja Mutasi. Saat ini, kata Ahmad sudah ada 128 kasus mutasi yang sedang ditangani. Sebanyak 47 kasus di antaranya adalah mutasi atlet dari provinsi lain menuju daerah kabupaten kota di Jabar.
Ahmad menegaskan, tim Pokja Mutasi KONI Jabar akan berkerja secara profesional dan independen untuk memverifikasi masalah mutasi tersebut.
“Pada April nanti, kami akan memfinalisasi siapa saja atlet yang ikut Porda, apa saja cabornya, apa saja nomornya, semua diclearkan. Jangan sampai lagi ada istilah atlet siluman atau atolet yang tiba-tiba muncul dan terlibat di Porda tanpa diketahui asal dari mana dan proses partisipasinya. Kai juga tidak akan mudah menerima atlet dari luar, apalagi dari luar Jawa,” ujar Ahmad.
Dia menegaskan, Porda di Kabupaten Bogor harus menjadi ajang prestise dalam pembinan prestasi dan bukan sekadar untuk memburu kemenangan dengan segala cara. Menurut dia, spirit yang sama juga harus dianut oleh tuan rumah Kabupaten Bogor.
Porda bukan hanya untuk menang-menangan. Tuan rumah itu diuntungkan karena memiliki infrastruktur dan mempresentasikan bagaimana pembinaan di wilayah tersebut. Keberhasilan akan diukur secara produk hasil pembinaan,” kata Ahmad.
Dia berharap, Porda bisa berlangsung lancara dengan menjunjung semangat sportivitas. Wilayah Bandung Raya sebagai lumbung atlet dan barometer prestasi dalam perolehan medali berbagai level kejuaraan, kata Ahmad, diharapkan bisa konsisten berkontribusi mencetak atlet-atlet andal melalui Porda ini.
“Dari dulu sampai sekarang daerah-daerah di Bandung Raya adalah lumbung atlet. Pembinaan secara logis dekat dengan KONI Jabar dan fasilitas cukup lengkap sehingga menjadi daya tarik atlet untuk berkumpul. Namun kami sudah menyiapkan konsep ke depan supaya Porda digelar di lebih dari tiag daerah sehingga motivasi pembangunan infrastruktur dan atlet bisa
bertumbuh secara merata di semua wilayah,” kata Ahmad.
Ketua KONI Kota Bandung Aan Johana mengapresiasi langkah KONI Jabar yang turun ke daerah untuk menyerap informasi maupun masalah yang dialami dalam pembinaan atlet di daerah. Namun, dia juga berharap KONI Jabar tidak hanya mendengar dan menginventarisasi masalah, tapi lebih penting lagi secara tegas memberikan keputusan atau solusi untuk pemecahan masalah, khususnya masalah mutasi yang saat ini sedang merebak.
“Kami tidak mengharamkan mutasi. Yang penting alasan jelas dan sesuai aturan. Jangan sampai atlet mundur, tapi tahu-tahu pindah ke kabupaten atau kota lain yang menjanjikan pekerjaan. Kami membina atlet dari junior, selalu memberikan apresiasi untuk setiap pencapaian, tapi kemudian ditinggalkan menjelang multievent karena ada daerah lain yang memberikan pekerjaan. Jujur saja, memberikan pekerjaan itu sulit, apalagi untuk menjadi PNS karena sekrang bukan zaman otonomi daerah. Lagi pula binaan kami itu banyak, ada 3.400 atlet dari junior sampai senior,” kata Aan.
Dia berharap Tim Pokja mutasi KONI Jabar bisa bijak memutuskan masalah mutasi atlet. Menurut dia, pelaksanaan Porda harus menjadi tolok ukur keberhasilan pembinaan olah raga daerah, bukan sekadar mengejar gengsi sesaat menjadi juara umum.
“Sukses penyelenggaraan sukses prestasi, tapi dengan menarik atlet dari luar daerah, untuk apa. Yang akan rugi Jabar, apalagi kalau atlet mutasi dari luar itu tidak ikut memperkuat Jabar di PON. Hanya mengejar bonus APBD daerah yang sebenarnya merupakan hak para atlet daerah, lalu pergi dan membela daerah lain di PON,” kata Aan.
Sementara itu Ketua KONI Cimahi Trenggono mengaku tidak ambil pusing dengan masalah mutasi atlet. Menurut dia, Cimahi akan mengandalkan atlet-atlet ahsil pembinaan yang memang loyal membela Cimahi pada Porda nanti.
“Sudah ada 23 atlet kami yang pergi diambil daerah lain. Tapi kami tidak mau dibikin pusing. Kita pakai atlet yang mau saja,” ujar Trenggono. (B4)