Rombongan IPSI Jabar Berangkat Ke Belanda Dan Prancis

BANDUNG,- Sejumlah pelatih, nayaga, bersama pengurus provinsi Ikatan Pencak silat Indonesia Jawa Barat berangkat melakukan tur ke Belanda dan Prancis sejak Selasa (25/9/2018) sampai Sabtu (6/10/2018). Selain melakukan pelatihan nayaga dan mempromosikan silat, rombongan dari Jawa Barat juga mengumpulkan poin dalam upaya mendapatkan pengakuan dari UNESCO terhadap pencak silat sebagai warisan dunia tak benda asal Indonesia.
“Di Belanda, kami akan mengadakan diskusi pencak silat road to Unesco, workshop, kendang penca dan ibing penca, memberikan pelatihan nayaga, sampai turnamen persahabatan. Tempatnya di Universitas Leiden ,” ujar Ketua Pengprov IPSI Jawa Barat Phinera Wijaya.
Menurut dia, rombongan IPSI Jabar yang berjumlah sedikitnya 17 orang  akan menghadiri diskusi pencak silat road to Unesco di KBRI di Den Haaag (27/9/2018). Sementara itu, workshop dan demo silat digelar di Werelddanswerkplaats Theater Vaillant Den Haag, Jumat (28/9/2018). Adapun workshop kendang penca dan ibing penca yang digelar di NSPF Hoofddrop, Minggu (30/9/2018) menjadi aktivitas terakhir rombongan IPSI Jabar di Belanda.
“Turnamen persahabatan NSPF workshop kendang pencadan ibing penca akan digelar sepanjang hari Minggu (30/9/2018) di NSPF Badhevedorp,” kata Phinera.
Setelah dari Belanda, rombongan akan bertolak menuju Paris untuk mengikuti konferensi, demo, workshop, dan pameran di Institut des Cultures d’Islam. Keesokan harinya, Kamis (4/10/2018), rombongan IPSI Jabar terlibat dalam workshop penampilan kaul kenca di KBRI Paris.
“Rangkaian aktivitas di Paris untuk mencari poin agar pencak silat bisa diakui Unesco sebagai warisan budaya tak benda  atau ntangible cultural world heritagepada 2020,” ujar Phinera.
Sebagai informasi, pada Maret 2017, pencak silat diajukan ke Unesco untuk menjadi warisan budaya dunia tak benda asal Indonesia. Indonesia sendiri telah memiliki sembilan warisan budaya tak benda yang telah diakui oleh UNESCO, yakni batik, praktik terbaik cara pembuatan batik, wayang, keris, angklung, tari saman, noken, tiga genre tari Bali, dan seni pembuatan perahu tradisonal pinisi.
apabila silat diakui sebagai warisan budaya dunia tak benda, dunia akan mengakui Indonesia sebagai satu-satunya negara yang menjadi tempat kelahiran dan pencetus pencak silat yakni Indonesia.
“Dengan demikian, akan lebih mudah untuk memasukkan pencak silat sebagai cabang olah raga yang dipertandingkan di olimpiade. Pencak silat tidak hanya dipandang sebagai olah raga semata karena pencak silat juga dapat dilihat dari sisi seni yang mengandung berbagai nilai dan budaya luhur,” ujar Phinera. (B10)