TI Jabar Ingin Dongkrak Kualitas Atlet Kyorugi

BANDUNG,- Keberhasilan atlet taekwondo Jawa Barat Defia Rosmaniar meraih satu-satunya medali emas taekwondo dari nomor poomsae Asian Games 2018 merupakan kebanggaan. Namun, Pengurus Provinsi Taekwondo Indonesia Jawa Barat menilai keberhasilan pada nomor poomsae (jurus) itu juga merupakan pengingat untuk lebih meningkatkan kualitas atlet pada nomor kyorugi (duel) yang tidak menyumbangkan medali pada Asian Games 2018.
“Untuk poomsae, atlet-atlet kita masih bisa bersaing dengan atlet luar, bahkan untuk level dunia karena Asian Games itu juga diikuti atlet-atlet papan atas dunia. Namun untuk kyorugi, gap (jarak) antara atlet kita dengan luar boleh dibilang masih terlalu jauh,” ujar Ketua Pengprov TI Jawa Barat Benny R. Gautama.
Dia menilai, upaya meningkatkan kualitas atlet kyorugi agar bisa bersaing dengan atlet luar merupakan salah satu program prioritas dalam pembinaan atlet TI Jabar. Selain melalui program latihan, upaya tersebut akan dilakukan melalui rangkaian pertandingan uji coba dan pasrtisipasi pada kejuaraan-kejuaraan bergengsi baik di level nasional maupun internasional.”
“Karena beda kualitas dengan luar negeri jauh, harus ditipiskan, supaya atlet kita bisa bersaing pada ajang seperti Asian Games. Itu yang akan menjadi salah satu perhatian kami ke depan,” kata Benny.
Pada kesempatan itu, Benny memberikan apresiasi berupa uang tunai kepada lima atlet dan seorang pelatih taekwondo asal Jawa Barat yang menjadi bagian tim nasional taekwondo Indonesia pada Asian Games 2018. Salah seorang di antara kelima atlet tersebut adalah Defia yang menyumbang medali emas pertama untuk kontingen Indonesia pada Asian Games XVIII/2018 setelah menjuarai nomor poomsae perseorangan putri.
Defia sukses mengalahkan wakil Iran, Salahshouri Marjan dengan skor 8.690 – 8.470 pada laga final di Jakarta Convention Center, Minggu (19/8/2018). Sementara itu atlet lainnya adalah wakil jabar untuk nomor kyorugi, yakni Dinggo Ardian Prayogo yang bertanding pada kelas Under 80 kg putra, Dhean Titania Fajrin yang bertanding di kelas under 49 kg putri, Maulana Haidir (poomsae), Rachmania Gunawan (poomsae), dan M Alfi Kusuma (poomsae).
Apresiasi juga diberikan kepada Pelatih Taufik Krisna Nugraha, dan wasit Tb. Indra MZ. Pemberian apresiasi dilakukan oleh TI Jawa Barat bersama Ketua KONI Jawa Barat terpilih Ahmad Saefudin dan Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana.
“Semua atlet taekwondo Asian Games dari Jabar dapat bonus, tapi tentu berbeda antara yang dapat (medali) dan tidak. Jumlahnya tidak seberapa, hanya sekadar uang cinta kasih,” kata Benny.
Menurut dia, pemberian apresiasi ini diharapkan dapat menjaga motivasi atlet untuk tetap berlatih dan berprestasi. Apalagi, banyak ajang pentingyang akan segera dihadapi oleh atlet, mulai dari SEA Games 2019, PON 2020, hingga Olimpiade 2020.
“Pengorbanan mereka sebagai atlet berat, meninggalkan keluuarga, teman, pemusatan latihan jangka panjang. Bonus ini mudah-mudahan sedikit meringankan beban dan membuat mereka tetap termotivasi,” ujar Benny.
Sementara itu Defia mengaku sangat bersyukur mendapatkan apresiasi dari TI Jawa Barat. Menurut dia, aliran apresiasi dari banyak pihak seolah membayar kerja keras yang selama ini dia lakukan untuk meraih gelar juara Asian Games 2018.
“Banyak apresiasi menjadi motivasi. Ini artinya kerja keras saya tidak sia-sia. Sudah lelah setahuun sebelum Asian Games untuk berlatih, meninggalkan orang tua, latihan di luar negeri, dan sekarang semua orang mengapresiasi dan mengenal Defia,” ujar atlet asal Kota Bogor tersebut.
Dia mengatakan, saat ini fokusnya adalah kembali berlatih untuk meraih prestasi pada Porda XIII/2018. Defia akan memperkuat daerah asalnya Kota Bogor pada kompetisi multicabang olah raga antarkota kabupaten di Jabar itu.
“Selain Porda, saya juga mempersiapkan diri untuk SEA Games 2019 di Filipina. Semoga bisa mempertahankan prestasi,” kata Defia. (B10)